ESSAY
Strategi
Penerapan Ekspor Impor dalam Perkembangan Perekonomian di Indonesia
RENI TRI ISROMIYAH
Mahasiswa Akuntansi Universitas Gunadarma
Dalam
konteks berbagai macam permasalahan yang ada pada negri ini, tentu tidaklah
asing bagi kita terkait adanya Ekspor dan Impor dalam bidang perekonomian
Indonesia.Negara Indonesia merupakan Negara Agraris dan Negara Maritim.Dalam
hal Ekspor dan Impor, ternyata Indonesia dengan segala keunggulan dibidang
pertanian khususnya dalam hal komoditi beras, masih membeli (Impor) beras dari
negara lain.Apalagi kenaikan harga BBM berdampak pada kenaikan kebutuhan pokok.Setiap
negara memiliki sumber daya alam yang berbeda-beda satu sama lain ,sehingga membutuhkan
komoditi yang tidak tersedia di negaranya akan tetapi tersedia di negara
lain, maka negara tersebut melakukan
perdagangan atau pertukaran komoditi dan terjadilah kegiatan ekspor dan impor. Pelabuhan
sebagai tempat kegiatan ekonomi yang menjadi sasaran utama agar jalur ekspor
dan impor barang berjalan lancar.
“Perdagangan
internasional ekspor impor adalah kegiatan yang dijalankan eksportir maupun
produsen eksportir dalam transaksi jual beli suatu komoditi dengan orang asing,
bangsa asing, dan negara asing. Kemudian penjual dan pembeli yang lazim disebut
eksportir dan importir melakukan pembayaran dengan valuta asing” Amir (2001:1).
Jika
memandang kondisi di Indonesia yang serba berkecukupan , perlu kita ketahui bahwa
kuantitas yang unggul tidak disertai kualitas yang mumpuni dapat menghancurkan
kuantitas itu sendiri.Jangan menjual produk yang rendah, karena reputasi dan
harga diri bangsa menjadi taruhannya.Melimpahnya kekayaan alam di negeri ini
menyambut peluang bisnis berskala internasional. Kegiatan ekspor impor dijadikan
salah satu solusi yang dipilih agar kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi dan menumbuhkan
hubungan harmonis antar bangsa.
Berdasarkan
melihat sisi dari teori mikroekonomi , maka menganalisis hal-hal seperti
interaksi penjual pembeli di pasar barang, tingkah laku penjual pembeli dalam
melakukan kegiatan ekonomi, dan interaksi penjual pembeli.Sedangkan dalam teori
makroekonomi menganalisis aspek berikut seperti penentuan kegiatan perekonomian
, masalah inflasi dan pengangguran dan faktor yang menyebabkannya, dan
bentuk-bentuk kebijakan pemerintah dalam menghadapi masalah-masalah ekonomi
yang timbul.
Ketika
krisis terus melanda , akibatnya menimbulkan guncangan sosial dan politik yang
tidak henti-hentinya. Salah satu penyelamat krisis ekonomi adalah kinerja
ekspor di tengah lesunya permintaan domestik swasta karena penurunan
pengeluaran investasi, konsumsi masyarakat karena turunnya daya beli, dan
pengeluaran pemerintah karena harus mengalokasikna dana yang sangat besar untuk
subsidi BBM serta membayar cicilan utang dan bunganya.
Promosi
memegang peran penting dalam strategi pemasaran ekspor, dalam aspek pemasaran
promosi merupakan salah satu unsur dari
strategi bauran pemasaran (marketing
mix), unsur-unsurnya yaitu: product
(komoditas yang kita hasilkan), price
(harga jual yang kita tawarkan), promotion
(upaya memperkenalkan produk), place of
distribution (wilayah sasaran ekspor), power
(bantuan pemerintah dalam mendorong ekspor), dan public support (kekuatan legislative dalam mendorong ekspor).Pemerintah
juga diminta untuk mengubah strategi ekspor yang masih mengandalkan bahan
mentah. Karena ekspor bahan mentah tidak memberikan nilai tambah.
Kegiatan
ekspor merupakan salah satu cara untuk memasarkan produk Indonesia ke luar
negeri.Misalnya, pakaian batik merupakan salah satu produk Indonesia yang mulai
dikenal oleh masyarakat dunia.Apabila permintaan terhadap pakaian batik buatan
Indonesia semakin meningkat, pendapatan para produsen batik semakin besar.Dengan
demikian, kegiatan produksi batik di Indonesia akan semakin berkembang.Dengan
demikian, kekayaan negara bertambah karena devisa merupakan salah satu sumber
penerimaan negara.
Kegiatan ekspor akan membuka lapangan kerja
bagi masyarakat karna semakin luasnya pasar bagi produk Indonesia, sehingga
semakin luasnya pasar bagi produk Indonesia.Proses produksi, tingkat teknologi
di negara kita umumnya masih sederhana maka dari itu dapat dipermudah dengan
adanya teknologi modern.Pengembangan teknologi masih lambat karena rendahnya
kualitas sumber daya manusia.Untuk mendukung kegiatan produksi, kita dapat
mengimpor teknologi dari luar negeri.Perdagangan antarnegara juga memberikan
kesempatan bagi Indonesia untuk mempelajari teknologi dari negara lain. Mengapa
demikian?
Dalam perdagangan biasanya
terjadi pertukaran informasi.Dari saling bertukar informasi ini, Indonesia
dapat belajar teknik produksi baru dan pemanfaatan teknologi modern.Setiap
kegiatan usaha pasti membutuhkan bahan baku. Untuk memproduksi mobil dibutuhkan
besi dan baja. Tidak semua bahan baku produksi tersebut dihasilkan di dalam
negeri. Mungkin ada yang diproduksi di dalam negeri, tetapi harganya lebih
mahal. Pengusaha tentu lebih menyukai bahan baku yang harganya lebih murah.
Demi kelangsungan produksi, pengusaha harus menjaga pasokan bahan bakunya.
Salah satu caranya dengan mengimpor bahan baku dari luar negeri.
Pengelompokan Barang
Ekspor telah diatur dalam Undang-Undang Pada Keputusan Menteri Perindustrian
dan Perdagangan No. 10/MPP/SK/I/1996 barang ekspor digolongkan dalam lima kelompok
strategi utama dalam peningkatan ekspor.Strategi yang dimaksud tersebut adalah
promosi, pengamanan perdagangan, peningkatan daya saing dengan regulasi dan
fasilitasi, peningkatan daya saing dengan hilirisasi dan substitusi impor serta
peningkatan daya saing infrastruktur.
Menurut Rachbini (2004:
40-41), strategi menoleh ke luar dinilai sebagai cara yang baik untuk
memperkuat mesin pertumbuhan ekonomi. Strategi ini dijalankan dengan
instrumen-instumen yang dipusatkan pada kebijakan, program dan kegiatan untuk
memacu ekspor barang-barang yang diproduksi di dalam negeri. Dengan demikian
maka diharapkan, sektor luar negeri dari sistem ekonomi nasional menjadi lebih
kuat, yang pada gilirannya akan memperkuat ketahanan ekonomi nasional.
Strategi menoleh keluar
bertujuan untuk mencapai target pertumbuhan ekspor yang pesat agar mampu
menghasilkan devisa yang besar, yang mampu memperkuat posisi sektor luar negeri
dari ekonomi nasional untuk pembiayaan pembangunan, pembayaran impor dan
pembayaran utang luar negeri. Strategi ini sendiri dapat diwujudkan dengan
menciptakan efisiensi pada setiap kegiatan ekonomi, khususnya sektor industri
dan perdagangan.
Dalam kebijakan tersebut, negara harus
melakukan penghapusan berbagai kendala dan hambatan ekspor untuk mencapai
tingkat produksi yang efisien dan mampu bersaing dengan negara-negara lain di
pasar internasional. Strategi promosi ekspor memerlukan dukungan suasana
sosial, budaya dan politik yang kondusif agar proses industrialisasi berjalan
baik, sehingga industri-indusrti dalam negeri bisa menghadapi pasar
internasional yang sangat bersaing.
Alasan Strategis
Alasan pokok mengapa cukup
banyak negara sedang berkembang mengimplementasikan kebijakan promosi ekspor ?
Negara dengan ekonomi
terbuka dapat meningkatkan ketahanannya dengan melakukan ekspor sebanyak
mungkin agar kebutuhan impor di negara tersebut dapat dibiayai dari penghasilan
sendiri. Strategi ini untuk menghimpun cadangan devisa yang akan memperkuat
ekonomi dan keuangan negara. Selain itu, NSB yang memiliki cadangan devisa
besar dapat dengan mudah meredam dampak gejolak perekonomian dan keuangan
internasional.
Kedua, untuk memacu
akselerasi pertumbuhan industri manufaktur dalam negeri untuk tujuan ekspor.
Syarat utama agar bisa melakukan penetrasi pasar internasional adalah efisiensi
dan mampu bersaing dari segi kualitas dan harga. Strategi promosi ekspor
menggiring industri manufaktur di dalam negeri ke arah persaingan pasar internasional,
sehingga industri yang dipilih bersifat kompetitif dan memiliki keunggulan
komparatif yang jelas.
Ketiga, untuk meningkatkan
dinamika ekspor dari komoditas tradisional, yang telah dikembangkan negara yang
bersangkutan, karena komoditas tersebut telah dikembangkan sejak lama dalam
bentuk yang telah terproses sebagai barang jadi.
Keempat, untuk meningkatkan
penerimaan produsen pada sektor-sektor industri pertambangan , industri berat ,
pertanian , perikanan dan peternakan.Contohnya : membuka industri kreatif
berkelas intrernasional.
Kegiatan ekspor banyak
memberikan dampak positif, di antaranya adalah peningkatan pendapatan dari
produsen hulu komoditas tersebut dan memacu pertumbuhan produksi bahan baku,
terutama kegiatan ekspor dari komoditas berbasis sumberdaya lokal.
Keenam, untuk mempertinggi
tingkat penyerapan tenaga kerja lewat berbagai kegiatan ekonomi yang ditujukan
untuk ekspor. Ketujuh, untuk mensubstitusi barang-barang manufaktur. Jika suatu
negara berhasil melaksanakan strategi promosi ekspor, maka secara otomatis
dapat mensubstitusikan komoditas impor yang dipasarkan dalam negeri.
Menurut Bhagwati dalam
Rachbini (2004: 47), strategi promosi ekspor merupakan suatu kebijakan dan
program, yang dimaksudkan untuk mengeliminasi bias dan hambatan ekspor.
Strategi ini dilaksanakan untuk kegiatan ekspor sebanyak untuk produk domestik.
Para pendukung strategi promosi ekspor, NSB yang terlalu lama terkungkung dalam
jebakan strategi substitusi impor pada umumnya kehilangan kesempatan untuk
meningkatkan kinerja ekonominya. Strategi substitusi impor dalam kenyataan
banyak mengalami kegagalan.
Jadi,meskipun strategi
promosi ekspor dinilai cukup efisien dalam mengalokasikan sumberdaya, tetapi
kritikus manilai bahwa tingkat pertumbuhan di banyak negara yang menerapkan
strategi ini tidak merata bahkan ada yang tumbuh tidak terlalu tinggi. Kritikus
yang lebih keras menilai bahwa negara yang menerapkan strategi promosi ekspor
cenderung tergantung ke luar negeri dan pertumbuhan diciptakan karena injeksi
utang.
Faktor
yang pertama adalah elastisitas permintaaan terhadap tingkat pendapatan (dampak
perubahan pendapatan terhadap permintaan) untuk bahan-bahan pangan hasil
pertanian dan bahan mentah relatif rendah.Faktor penyebab kedua
adalah rendahnya tingkat pertumbuhan penduduk di negara-negara maju sehingga
kenaikan permintaan bahan pangan yang
bisa diharapkan oleh NSB dari faktor ini hanya sedikit elastisitas permintaan
sebagian besar komoditi primer terhadap perubahan harga juga relatif rendah.
Tujuan utama dari
pengadaan perjanjian semacam itu adalah menetapkan tingkat output keseluruhan,
menstabilkan harga dunia, dan membagi-bagikan kuota ke berbagai negara yang
menghasilkan komoditi tersebut.
Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa upaya peningkatan ekspor barang primer tidak dapat dijalankan
tanpa adanya reorganisasi struktur-struktur sosial ekonomi yang ditujukan untuk
memacu produktifitas pertanian secara keseluruhan dan mendistribusikan
manfaatnya secara luas. Tujuan utama setiap strategi pembangunan harus mencukupi kebutuhan pangan, memberi
nafkah dan memenuhi segala kebutuhan pokok lainnya secara memadai kepada
seluruh warga, dan setelah itu barulah kemudian berusaha untuk mengembangkan
ekspornya sehingga dapat memetik manfaat-manfaat potensial lainnya dari
keunggulan komparatif mereka dalam pasar komoditi primer dunia, apabila mereka
dapat: bekerja sama secara erat dan
terpadu dengan negara-negara berkembang sesama pengekspor komoditi primer
lainnya, dibantu oleh negara-negara maju dalam merumuskan dan menyelenggarakan
perjanjian komoditi internasional, dan mendapatkan akses yang lebih besar untuk
memasuki pasar-pasar negara maju.
Dalam
masalah ini, adanya proses impor beras dari luar negri disaat nilai produksi
beras di Indonesia mengalami surplus memang banyak menimbilkan tanda tanya.
Seharusnya, pemerintah dalam hal ini khususnya Bulog melakukan manajemen stok
yang lebih baik, bulog harus memaksimalkan penyerapan beras dari para petani
lokal. Hal ini selain dapat mengamankan stok beras juga dapat menghasilkan
pendapatan bagi petani sehingga kesejahteraan petani dapat naik. Bulog harus
lebih agresif menyerap gabah dari petani agar mereka tidak dirugikan.
Selanjutnya,
pemerintah diharapkan dapat menggelar operasi pasar untuk menstabilkan harga.
Hal ini tentunya harus diimbangi dengan manajemen stok yang baik. Pemerintah
harus berkomitmen kuat mengatasi segala persoalan secara komprehensif dari hulu
ke hilir agar tidak harus selalu bergantung pada impor.
Akan
tetapi, kebijakan untuk ekspor dan impor harus dengan alasan berdasarkan
ketentuan yang berlaku dalam undang-undang. Barang dari dalam negri tidak semua
bisa di ekspor, hal ini dikarenakan data produksi dan data konsumsi Pada
akhirnya, tugas bagi berbagai pihak yang terkait adalah memperbaiki kinerja
masing-masing. Kebijaksanaan Pemerintah agar setiap kebijakan yang diambil tidak
merugikan petani lokal yang kesejahteraannya masih rendah tanpa mengorbankan
ketahanan pangan Indonesia.
Berdasarkan pemaparan masalah diatas, saya berharap ke depannya
Indonesia dapat meningkatkan kesejahteraan hidup mereka.
Referensi :
http://ekonomi.kompasiana.com/agrobisnis/2011/11/29/indonesia-negara-penghasil-pangan-yang-masih-impor-bahan-pangan
http :// pemerintah-perlu-ubah
strategi-ekspor-impor.html